Pages

Thursday, December 12, 2013

Wahai Cermin, ingatkan diriku..



Di hampir setiap penolakan dalam sebuah ajakan pasti ada penerimaan, pun misal hanya sekali dalam tujuh kali. Mengalami hal itu juga khan?! Pasti, hampir setiap orang mengalaminya. Tidak terkecuali ajakan dalam kebaikan ataupun dalam keburukan. Dan tentu saja yang paling susah adalah mengajak dalam kebaikan. Lebih susah ngajak orang sholat ketimbang ngajak jalan-jalan ke mall bukan?! hehehe

Terasa sekali, gemes-gemes gimana gitu ya kalau diajak baik tapi ada saja dalihnya. Nah, berikut sedikit pengalaman 'gemes-gemesnya' saya.

Setiap kali dalam perjalanan atau sedang berada di suatu tempat dalam sebuah acara yang sedang saya ikuti, selalu saja dipertemukan dengan orang-orang yang bisa jadi teman ngobrol sepanjang jalan dan bahkan pertemanan/persaudaraan berlanjut meski tak saling bertemu dalam waktu yang lama. Dari obrolan simple sampai akhirnya membahas suatu kasus atau malah curhat...(^___^)a ..

Sampai suatu ketika ada yang mengeluhkan tentang minimnya fasilitas rohani di daerah sini dan ingin mengikuti kajian yang netral saja seperti di kampung halamannya. Minim disini dalam artian yang tanpa berharakah, cari yang netral-netral saja dan tidak ekstrim ajarannya, yang tidak kalah pentingnya ialah tidak menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Kebetulan karena kefakiran saya dalam ilmu agama,  saya akhirnya rutin mengikuti kajian-kajian dan seminar-seminar keagamaan, baik di seputaran wilayah Karawang maupun di Jakarta dan Bandung. Saya ajaklah orang-orang tersebut ke sebuah acara kajian seorang Ustadz yang seringkali muncul di TV nasional yang rutin diadakan tiap bulan, dan yang banyak jamaahnya (termasuk saya) meyakini bahwa Ustadz tersebut netral.

Dihantarkanlah sebuah alasan yang dimaksudkan sebagai upaya untuk menolak secara halus, "Wah, kok Ustadz 'INI' mbak, Ustadz 'ITU' nggak ada ya? Kalau ada sih pingin ngikut Ustadz yang 'ITU' saja". *MasihSenyumManisIkhlasPoll

Ok, saya persembahkan sebuah jadwal sesuai permintaan, " Ada kok di minggu kedua, saya juga suka ikut". Dan tangkisan kedua dilancarkan, "Waduh, kok tengah bulan sih, tanggung bulan mbak, belum gajian". *SenyumManisPollNafasPanjang1x

Baiklah, jurus ketiga, "Ongkos kesana mah murah banget kok, cuman 15ribu sudah PP, tinggal kitanya aja mau nggak bangun lebih awal" *SempatTerlintasMauTraktirOngkosTransport. Tangkisan ketiga ternyata menyusul mendarat, "Tapi khan jauh, mana bawa anak tuh ribet banget, mesti bawa stroller kalo nggak bawa stroller khan berat ngegendongnya, bekal susu, baju ganti, bekal makannya, bekal ini itu..ah ribet dech pokoknya". Alasan seperti ini walaupun mau ditraktir ongkos juga suka susah  ~(-_-"^)...*CobaPertahankanPosisiSenyumTetapDiTempatnya.

Stay calm Dy, belum kelar, masih ada jurus lain, "Mmm, kalau gitu ikut kajian mingguan aja di masjid deket rumah, saya kalau pas kosong jadwal di luar juga suka ikut di situ". Tanggapan bagus saya terima, "Nah, boleh tuh, kapan mbak?". Jawaban saya, "Kajian mingguan, tiap Ahad pagi, Insya Allah Ahad ini juga ada".
Dan akhirnya .................
"Yaaaaaaaaa, minggu ini mudiiikkk, bla bla bla bla bla bla bla...."
JGEEEEEEEERRRRRR........
*TetapPertahankanSenyumNafasPanjang1xWalauHatiSudahBerasap ..... Hahahahaha....

Dan jawaban pamungkas saya mengingat nasehat para Ustadz untuk membalas dengan doa baik adalah, "Ya Udah, nggak papa, lain kali mungkin bisa ikut ya pak/bu, atau malah ngadain pengajian di rumah sendiri, ngundang ustadz-ustadz, wah SubhanAllah banget tuh"
*KaliIniNyengirKudaPalingManis *\(^-^)/*

Segala anak disebut merepotkan, ya kenapa mau punya anak? Begini ini saya jadi semakin salut dan hormat pada para orang tua jaman dulu. Sang Ibu menggandeng si Kakak di tangan sebelah kanan, menggendong si Adek dengan hanya sehelai kain selendang tanpa bantuan stroller lho, dengan perut masih buncit karena ada dedek bayi lagi di dalamnya. Hanya dibantu Sang Bapak membawakan tas besar berisi perbekalan untuk anak-anaknya. Bersama menempuh jarak yang tidak dekat dan dengan transportasi seadanya.
Mereka tidak manja, tidak mengeluh jauh, tidak mengeluh ribet, tidak mengeluh mahalnya ongkos, dan yang pasti tidak banyak alasan.

"Ah, belum ngerasain aja, makanya bisa komentar", hayoooo ada yang mikir gitu ya... *KedipKedip
Jangan suka su'udzon ah (Eh sayanya sendiri su'udzon ya? huehuehue maaf..maaf..). Tapi memang ketiga keponakan saya dari kecil sampai usia TK, saya gendong kemana-mana tuh tiap hari, sendirian, naik angkot, dengan tas segede gaban berisi perbekalan mereka. *SeruLho

Nah, ada alasan lain lagi yang biasa diajukan, "aih, ujan deres gini, mana kagak ada redanya dari tadi, bikin males keluar, becek, banjir, kotor kena lumpur. Kamu berangkat?", padahal jaraknya yang komentar dengan tempat kajian tidak lebih dari 10 menit, sedangkan saya 2,5 jam dalam hujan.

Masih mungkin jika saya memutuskan untuk balik ikut kereta berikutnya, tapi saya kehilangan ilmu dong. Pahalanya entah batal entah tidak, tapi yang saya yakini pahalanya tidak sempurna. Sedangkan battery iman saya perlu di recharge dan yang butuh ilmu adalah saya. Toh siapapun yang muslim saat dikubur nanti, baju satu-satunya yang dibawa akan berselimut tanah, lalu kenapa takut becek dan kotor terkena lumpur?!
Hanya karena takut terciprat sedikit lumpur, hilang kesempatan amalan baik hari ini walaupun banyak cara lain untuk beramal, tetapi belum tentu kesempatan yang sama hadir lagi. Yach sudahlah, mau ikut silahkan, kalaupun tidak juga bukan saya yang rugi.

Beda cerita dengan saat saya bertemu dengan mbak Vera bersama suami dan puteranya di kereta menuju Jakarta. Tanpa banyak alasan ataupun sekedar meninggalkan kesan baik, beliau langsung bilang, "Nanti kabari ya Dek kalau dapat jadwal kajian berikutnya. Insya Allah mbak ikut". See, beda to?!

Begitu juga dengan Vanny, seorang gadis belia asal Surabaya yang baru berusia 18 tahun dan baru memulai perkuliahan di Jakarta. Kami bertemu saat sama-sama mengikuti Kajian Bulanan Mujahid di Masjid Baitul Ilmi (Diknas) Jakarta. Singkat cerita, setelah ngobrol-ngobrol, saya ajak dia ikut kajian yang lain yang saya tahu jadwalnya. Gadis manis dan sederhana yang membuat saya iri ini langsung menjawab, "wah iya mbak, Insya Allah mau ikut".
Iri? Iya iri karena di usianya yang masih sangat belia, dia memanfaatkan waktunya dengan tepat. Beda sekali dengan saya saat masih seusianya, 12 tahun yang lalu. *langsungSedihKalauIngat
Pun ketika saya mendadak memberi kabar jadwal Kajian Tauhid oleh Aa Gym di Masjid Istiqlal sehari sebelum acara dilangsungkan, dia langsung mengiyakan, "Insya Allah mbak. Doakan semoga nggak ada yang menghalangi ya".
Dan besoknya, Vanny benar-benar hadir walau terburu-buru dan sedikit terlewat sesi kajian pertama karena harus menyelesaikan cuciannya dulu. Bisa saja dia berdalih, "wah mbak, lagi sibuk nih, banyak kerjaan di rumah", tapi Vanny tidak melakukannya.
Sama halnya ketika saya mengajak untuk mengikuti Seminar Kepenulisan, dia jujur menolak karena merasa tidak ada minat di bidang kepenulisan. Justru saya lebih hormat dengan kejujurannya menolak, ketimbang berdalih kemana-mana hanya agar tidak dinilai buruk.
SubhanAllah, betapa beruntung dan bersyukurnya orang tua yang memiliki putri seperti Vanny. Jujur, polos, walalupun di tempat dengan hingar bingar lingkungan ibukota.Semoga Allah selalu melindunginya dan merawatnya tetap terbungkus rapi oleh pelukan kejujuran dan kesederhanaan.

Vanny (no.2 dari kanan-hijab tosca), foto bareng di Masjid Baitul Ilmi (Diknas), Jakarta

Semua contoh kisah yang baik maupun kurang baik, bukan saya sudah merasa paling baik, sudah benar, dan paling suci. Woh, tentu tidak, justru karena saya tidak merasa seperti itu. Bagi saya pribadi, baik ataupun buruk sikap dan sifat orang lain adalah cermin-cermin yang dihadirkan Allah SWT untuk saya gunakan berkaca koreksi diri.
Saya juga seringkali terkalahkan oleh kemalasan, sering menyia-nyiakan kesempatan dan membiarkannya berlalu begitu saja tanpa saya mendapatkan apa-apa darinya.

Dari mereka semua saya belajar lebih tegas pada diri sendiri untuk berhenti menjadi setan atas diri saya sendiri.
No more lazy time, no more complaints, and no more space for bad habits.

Tetap berdoa mohon perlindungan agar terhindar dari tertular sifat dan sikap kurang tegas untuk memerangi keburukan diri sendiri.
Hamba berlindung padaMU Yaa Rabb-ku ..... أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Terima kasih saya yang tak terhingga pada cermin-cermin kehidupan yang singgah atas izin Allah.


** Mohon maaf atas ketidak sempurnaan dalam posting ini
** Kisah dalam posting ini merupakan kumpulan dari banyak pengalaman saya dan juga rekan-rekan saya dan tidak bermaksud untuk menunjuk satu pihak, kecuali yang disebutkan namanya.

No comments:

Post a Comment