Pages

Thursday, April 10, 2014

Dan Pada Akhirnya Inilah Pilihan Saya #EdisiPemilu



Cengar cengir melihat hasil quick count pemilu hari ini. Hasilnya tidak mengejutkan karena sesuai dengan obrolan antara saya dengan beberapa orang yang keberadaannya hanya dianggap saat masa kampanye.
Dimanakah itu?
Ya di pinggir jalan lah, setiap kali kalau saya sedang nongkrong sambil makan ketoprak atau cilok dan mengamati orang yang lalu lalang.

Dari hasil sementara ini, ada beberapa hal lucu yang menggelitik pikiran saya. Hal yang selalu terjadi setiap menjelang, selama, bahkan sesudah kampanye (dalam masa tenang). Entah mungkin karena pandang dan selidik saya sedang terfokus pada hal-hal itu sehingga menjadikan saya merasa bahwa kejadian ini semakin marak sepanjang masa reformasi hingga kini.
Kejadian apakah?
Banyak contohnya, intinya serangan fajar kampanye bahkan jauh sebelum ayam kampanye bangun dan berkokok.

Saya ingat sekali bulan Januari di awal tahun ini ketika saya mudik ke Malang dan sedang asyik berbincang dengan ibu sambil jaga toko. Tiba-tiba datanglah seseorang entah kader atau hanya simpatisan dari sebuah partai yang menyebut diri sebagai sebuah partai Islam terbaik.
Seketika alis mata saya naik sebelah hahahaha.
Saya tidak mau menyebut ini partai Islam karena saya memang tidak setuju dengan pencantuman agama disana. Partai itu tidak sempurna, yang menjalankan juga manusia, kalau ada salahnya maka agama akan dibawa-bawa turut dilecehkan.

Noted : Sekali lagi, ini celoteh saya, kalau anda ya terserah. No nyolot, No sinis, beda boleh khan ?! Woles bro... heuheuheu...

Kembali ke orang tersebut. Dia minta waktu untuk ngobrol santai. Jujur, saya langsung eneg karena tanpa menunggu kami mengiyakan, dia langsung menyodorkan brosur beserta kertas berisi nama caleg dari parpol tersebut. Mestinya kalau bawa-bawa agama tahu sopan santun bertamu ya, tidak masuk bila tidak dipersilahkan (mendapat persetujuan tuan rumah).
Orang tersebut langsung berceloteh panjang lebar dengan antusias seolah tanpa nafas. Saya engap mendengarkan penuturannya.

Sesaat dia mengambil nafas karena sepertinya penjelasannya sudah selesai, saya langsung menyodorkan segelas air mineral, tapi dia menolak dengan alasan sudah bawa sendiri.
Lalu saya tersenyum dan bertanya, "sudah mbak?"
Dia seketika agak kikuk, "eh, ehm iya mbak sudah. Ada yang kurang jelas? boleh silahkan ditanyakan"
Saya kembali tersenyum, "iya, ada yang kurang jelas"
"o iya, silahkan mbak, kurang jelasnya dimana?", dia mulai tampak bersemangat lagi.
"Yang kurang jelas itu..... hari ini hari apa ya.? Apa sudah musim kampanye? Setahu saya yang bodoh ini, kampanye itu kurang lebih semingguan lah sebelum pemilu ya dan pemilu masih bulan April, kalau nggak salah ini bulan Januari. Emang boleh ya? Bisa gitu? Saya kurang paham masalah politik jadi kayaknya saya perlu tanya ke teman-teman yang aktif disana", begitulah rentetan kalimat retoris saya.

Senyumnya seketika hilang dan berganti dengan kekakuan dan ketakutan.
Saya kembali tersenyum, "mbak, saya nggak nakuti lho ya, saya juga bukan aktivis partai apapun. Mungkin saya yang kurang update dengan perubahan peraturan-peraturan itu, tapi seingat saya dari dulu memang kampanye itu serentak. Maaf lho ya!"
Si mbak itu tidak menjawab apapun selain berdehem dan tersenyum kaku, lalu membereskan semua atribut yang dibawanya. Kemudian pamit sambil minta maaf.
Disusul jitakan Ibu yang mendarat di kepala saya, "hahaha oalah Nduk, punya anak kamu itu memang sering bikin mangkel kok" (mangkel = jengkel)

*Maaf lho ya, saya memang ceplas ceplos karena saya dilahirkan tanpa topeng dan hingga kini tidak punya topeng hehehe

Beberapa saat kemudian beberapa tetangga kami mampir belanja sambil ngomel-ngomel, biasalah ibu-ibu. "Bu Toyo, tadi ada perempuan mampir kesini ngoceh masalah partai nggak?"
Saya langsung terpingkal-pingkal dan Ibu menjawab pertanyaan tetangga kami dengan santai, "tadi Dyah yang nemuin, nggak tahu dijawab apa, terus langsung pamit, jalan lurus ke arah sana. Kelihatannya sih nggak mampir-mampir lagi"
"Dijawab gimana Dy?", tanyanya penasaran.
"Ada deeehhhh...Bulik mau tau aja, udah belanja aja yuk yang banyak xixixi", seloroh saya.
Tapi itu tidak memuaskan tetangga saya, sehingga dia melanjutkan ceritanya sambil bersungut-sungut " Lagian masih pagi kok udah mertamu ke rumah orang, orang kalo pagi khan masih repot. Sudah saya kasih tau saya masih repot, ehh masih juga ngotot katanya sebentar dan langsung duduk padahal nggak saya suruh masuk. Nggak punya sopan santun!". wuiihhh marahnya ngeriii (>,<")a hahaha
Menurut beliau, beliau ini sudah tahu mau memilih yang seperti apa, toh nanti juga ada penyuluhan resmi tapi khan masih bulan April. Cerdas ya tetangga saya, padahal beliau ini hanya seorang buruh cuci yang tidak pernah mengenyam pendidikan lho...

Lain kisah diceritakan oleh atasan saya. Tepat 2 hari sebelum pemilu dilaksanakan, satpam di kompleks perumahan beliau membagikan surat panggilan untuk hadir berperan serta menyumbang suara nantinya. Tapi yang membuat beliau terpingkal-pingkal adalah surat tersebut disertai sebuah kartu nama berisi promo program seorang caleg. "Saya tanya ke satpam, ini apa? dia jawab kalau itu biar saya ada pandangan untuk milih siapa. Pinter ya alasannya, dia khan tau saya bukan warga asli sini jadi saya disodori itu. Tapi saya lebih sreg kalau browsing sendiri data semua caleg, khan jadi bisa pilah pilih hahahaha"

Salah satu teman kantor juga begitu, "Eh pilih Ji..! Ingat pilih Ji...!". Entah yang dimaksud Ji apa, entah JiBan (Haji tambal Ban), atau JiTak (Haji boTak), atau JiMat (Haji kuMat), JiGong (Haji baGong) atau siapalah, yang pasti kami semua hanya tertawa menanggapinya.

Tidak hanya di area-area tersebut, di sesi ngobrol santai rutin saya dengan para sahabat karib saya, mereka bercerita,
"Jadi males ikut pengajian di situ, ustadznya ngomongin partai melulu, ngejelek-jelekin partai lain, maksa-maksa, diskriminatif, SARA banget cint..."
Yang lain tidak kalah seru, "iye, teman gereja juga, kita datang ke gereja pingin ibadah khusyuk, sosialisasi santai dengan para jemaat lain, ehh dianya rempong masalah partai. Ya okelah ya kalau mau promo, tapi yang sehat dong, jangan pake maki-maki partai lain. Males kalau udah bawa-bawa SARA. Kasihan Mak'nya SARA bingung nyariin khan?!"
"Gue anti ama partai dan para calegnya yang sok manis ama budaya, padahal maunya ngehapus budaya kita. Jijik banget sama partai importir budaya gitu"
Dan yang paling bikin saya terharu adalah pernyataan sahabat-sahabat beda etnis, terutama tionghoa "Kalau ada #GusDur, saya akan pilih seperti apa kata beliau", sedikit tapi ngena banget (T^T)

Nah, di lingkungan yang agak condong dan fanatik ke satu partai, mereka suka langsung memvonis saya. Duh, terdakwa juga bukan, tapi divonis melulu (-.-")a
"Kamu pasti coblos INI ya? khan kamu orang JATIM", mulai bawa-bawa daerah.
"Ukhti, pastikan coblos ONO ya, jangan ngaku syar'i walau pake hijab syar'i kalau nggak coblos ONO!", AAAIIIIIHHHHHH apa hubungannya syar'i sama partai? yang sakit ini siapa sih sebenarnya?
"Kalo orang selengekan kayak lu, pasti nyoblos INU khaannn? iye khan?! Lagian lu juga paling ga setuju ama broadcast kecaman khan"
Perlu diingat ya, saya nyantai dan setengah edan ya, bukan selengekan. Bedakan itu !!!!
Saya benar-benar perlu mengumpulkan IQ nih buat ngomong sama orang-orang seperti mereka, susah ya untuk taat sama peraturan bahwa ini HARI TENANG gitu?!
Saking gelinya saya bikin status di Facebook yang kurang lebih bunyinya seperti ini :
"
Pahamkah bahwa hari ini masih masuk HARI TENANG?!!!
JADI TENANGLAH ....karena yg maruk pasti TIDAK akan saya pilih...
#ehh
Mwuehuehuehue...

Saya pake kerudung panjang blm tentu saya golongan mereka...
Saya orang jawa timur tp jg blm tentu saya bagian dari mereka yg lain...
Saya ceplas ceplos tp bukan berarti saya pro sama yg diperolok dan dihujat...

*menurut kalian baik buat saya, tp blm tentu menurut saya, so...jangan sok tau !!!
IQ ya... tolong IQnya?!

Salut buat sahabat2 saya yg jd timses tp ga sok tau dan maksa2...peluk kalian semua, semoga sukses membawa perbaikan utk Indonesia

*ngomong ngene mengko DITUDUH GOLPUT or KAFIR wkwkwk...
#rangurus
Ngopi ae lak enak...

#GituAjaKokRepot

"
Sudah semacam peramal saja mau nyaingi Gusti Allah sok-sokan baca maunya hati saya hahaha...
Disitu juga saya sisipkan rasa salut saya untuk teman-teman timses dari beberapa partai, baik yang saya memang mengenal maupun yang saya tidak kenal sama sekali tapi mereka benar-benar menghargai keinginan kita.

Baiklah, untuk mengakhiri tulisan kali ini, saya sertakan sedikit clue tentang pilihan saya, eciyeee siapa saya gitu ya?! Hahaha tapi siapapun saya, saya berhak untuk tidak dipaksa.

Saya cinta kedamaian bukan hanya ketenangan atas segala keberagaman.
Saya cinta kebudayaan, jadi saya tidak akan menukar dengan budaya manapun.
Saya cinta pembekalan dan pemberdayaan skill untuk kemandirian masyarakat, bukan sekedar rangkaian titel di belakang nama hanya untuk memudahkan jadi "buruh" yang diiming-iming gaji tinggi.
Saya cinta alam, adakah yang tidak mengeksploitasi alam?
Nasib petani dan nelayan, janji kepada mereka emang terbukti. Janji untuk diperhatikan. Ya, diperhatikan detik demi detik kemerosotan kehidupan mereka.
Lahan mereka saja dihabiskan, diganti gedung-gedung pencakar langit (hati-hati nanti kalau langit balas mencakar gedung #ehh ), pasar berubah jadi mall dan pedagang kecil gigit jari, dan banyak contoh lainnya. Nanti kalau sabda alam sudah bicara, nangis-nangis deh...

Astaghfirullah al adziim betapa negeriku yang dulu indah sekali...*tears*

Sudahlah, sedikit itu saja dulu, lainnya pikirkan saja sendiri.
Satu catatan penting, kadernya tolong dididik lagi ya, lebih selektif lagi untuk merekrut. Penting banget lho, pengaruh ke nama baik partai. (*Sotoy*)

Well, dari clue sedikit di atas (belum semua - sisanya rahasia) adakah yang merasa memenuhi?
Sudah ketemu?
Semoga "ramalan/tebakan" anda memang sama dengan pilihan saya. xixixi...

Kembalilah Tegap Berdiri Duhai Indonesiaku !!!!!
Aku merindukan damai dan indahmu di masa kecilku *mengheningkan cipta*

PS :
Selamat bagi pemenang, tetap rendah hati, semoga amanah dan total gas pol mewujudkan program-programnya demi perbaikan bangsa.
Bagi yang kalah, tetap optimis dan tidak perlu mencari-cari kesalahan pesaing yang memang secara hitungan menang. Tetaplah saling mendukung, toh tujuannya sama, Demi Indonesia yang lebih baik. Itu jauh lebih elegan.

Tidak perlu tersinggung dengan tulisan ini karena yang boleh tersinggung adalah yang melakukan pembodohan-pembodohan seperti yang saya utarakan di atas.


Hanya #celotehBocahTuwoSetengahEdan

Mohon maaf atas segala khilaf kata... *saliimm*...

No comments:

Post a Comment