Pages

Tuesday, March 25, 2014

Romansa Senja


Ternyata dalam keseharian saya, ada satu kegemaran yang entah sejak kapan tepatnya mulai muncul. Yang pasti dari kecil saya suka melakukannya.
Mengamati romansa pasangan suami-istri yang sudah beranjak senja. v(´▽`)7
Ya, mungkin kedengarannya aneh, tapi saya suka diam-diam memperhatikan, mengamati setiap gerak gerik mereka dan itu menimbulkan energi yang luar biasa dari dalam diri saya. 
Hangat, bersemangat. 
Bisa jadi karena aura kasih yang mereka pancarkan...weitseeeehhh...bukan yang artis itu lho ya
(-,-")a

Tatapan penuh kasih mesra dari sorot mata yang sudah tidak tajam lagi.
Ulas senyum yang terlukis di wajah yang mulai keriput.
Candaan yang seolah membawa mereka kembali ke masa muda.
Serupa sepasang sahabat sejati nan bahagia tanpa pernah terluka.
Sempurna tanpa cela.

MasyaAllah, saya seketika tersenyum sendiri memulai tulisan ini.


Di hampir setiap perjalanan saya, terekam banyak sekali romansa-romansa senja yang indah, karena saya sendiri juga suka berinteraksi dengan orang-orang yang sudah sepuh, itung-itung sekolah kebijaksanaan. xixixixi.
Nah, karena banyak, tentu saja tidak bisa saya ceritakan semua. So, I'll start with the pieces of the story of my family saja ya... mbuehuehue... ~(˘̀ ▽˘́)~ ...

Sebagai cerita pembuka, saya hadirkan kedua orang tua dari Ibu saya, yaitu Alm. Mbah Kakung Soetopo bin Soemodiredjo (wafat di usia 71th - 1987) dan Alm(h). Mbah Putri Moertini binti Sastrowidjojo (wafat di usia (80th - 2004). Sepasang anak manusia yang menghabiskan masa senjanya dengan penuh penghargaan ala Jawa.
Saat masih kecil, saya suka sekali mendengarkan Mbah Putri mengisahkan betapa beliau kagum pada sosok alm. Mbah Kakung.
Mbah Kakung, pria Jawa yang sangat Jawa #ehh . Urusan bekerja mencari nafkah di luar adalah urusan pria. Tugas wanita memastikan anak terjaga dan tumbuh sempurna. Tentang penyediaan fasilitas kemapanan hidup, itu sudah jaminan dari sang pria.
Mbah Putri, juga wanita Jawa yang sangat Jawa (´▽`) - c<ˇ εˇ). Seorang istri dan ibu yang perfectionist, selalu memastikan segala urusan pekerjaan rumah tangga ada di bawah komandonya. Pasti rapi, bersih, beres dengan anggun. Bawel? Cerewet? Pasti dong, tapi bawel dan cerewetnya anggun banget (.˘˘ʃƪ). Dari beliaulah saya mendapat banyak pengajaran dan contoh langsung bagaimana tata krama anggun seorang wanita Jawa.
Yaaaaa walau seringkali kelepasan lupa sikap kalau sudah kambuh cerewet dan bawelnya saya ~(˘̀ ▽˘́)~. Dan kambuhnya hampir tiap saat dong bkakakakak #ehh pst... perempuan tidak boleh buka mulut dan mengeluarkan suara kalau terpingkal-pingkal (*ngendikane mbah Putri - kata mbah Putri).
Well, kembali ke Mbah Kakung-Putri. Satu percakapan yang sempat dikisahkan Mbah Putri dan sangat membekas di benak saya adalah percakapan sederhana permintaan Mbah Kakung untuk disiapkan makan sepulang dinas.
Mbah Kakung     : "Jeng, Njenengan masak to kae mau? (Jeng, tadi masak khan?) *dan ini adalah isyarat untuk minta tolong disiapkan makan, padahal ya sudah tahu kalau pasti masak tiap hari juga, tapi ini sebagai penghargaan karena beliau paham repotnya mengurus urusan rumah tangga. Beliau tidak ingin terkesan memerintah.
Mbah Putri          : "Kersa dicepakaken dhahar sak punika, Mas?" (Mau disiapkan makan sekarang, Mas?). *Tanpa perlu menjawab masak atau tidak dan tanpa perlu menjelaskan menu masakan hari ini, beliau sudah tanggap. Ya karena memang budaya Jawa, teguran harus tidak boleh menyakiti hati orang lain.
Mbah Kakung     : "Nggih...Nggih...wah, enak tenan ki mesthine" (Iya... Iya...wah enak sekali ini pastinya)
SO SWEET BANGET khaaannnn....(ε˘˘ʃƪ). Entah masakan itu nantinya enak atau tidak, tapi lagi-lagi itu sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras Mbah Putri menangani urusan rumah, dan itu serasa menjadi pengobat lelah. Huuu huuuu mauuuuu (ε˘˘ʃƪ).
O iya, ditambah lagi panggilan mesra mereka berdua :
     Mbah Kakung ke Mbah Putri : " Diajeng (Jeng) "
     Mbah Putri ke Mbah Kakung : " Kangmas (Mas) "
Duuuuuhhhhhh....makin mlipir ngiler deh saya...(ʃƪ˘˘.) (.˘˘ʃƪ). Romantis bangeeeeettttt yaaaaaaa.....


Next story is coming from Pakliknya Bapak beserta istrinya dan Buliknya Bapak beserta suaminya. Lhoh, kenapa bukan Mbah Kakung-Putri orang tua Bapak? Ya karena Bapak sudah yatim piatu sejak kecil dan dibesarkan oleh Buliknya Bapak.
Sekali waktu Ibu pernah berujar, "Ibu nggak pernah tahu rasanya disayang mertua, tapi ibu yakin mereka menyayangi Ibu karena Ibu tulus menyayangi Bapakmu. Ibu hanya bisa kirim doa bakti buat Mbah Kakung-Putri Tuban karena lantaran mereka...bapakmu ada". Duuuuuuuuuuuhhhhhh sedih banget sumpaaaahhhhhh.....(╥﹏╥).
Wis, tahan dulu nangisnya (T^T) tarik nafas...

Beranjak ke Pakliknya Bapak dari keluarga Ponorogo.
     Panggilan sayang beliau ke istrinya : "Dek"
     Panggilan sayang istrinya ke beliau : "Mas"
Dan sampai penghujung usia, mereka tetap mesra dengan panggilan seperti itu (beliau wafat di usia 90th-an). Hidup mereka sungguh harmonis walaupun diuji dengan agak sulit memiliki keturunan. Bagi mereka, hidup itu lillahi ta'ala, menjalankan sebaik-baiknya apa yang sudah menjadi ketetapan Allah. Meski andai tanpa hadirnya keriuhan keturunan, mereka akan saling menopang hingga takdir Allah menentukan mereka harus terpisah alam.
Masya Allah... manis banget khan ya....
 ( ~ _ ~ )
   (")(")    mauuuu bangeeetttt, Yaa Allah..... pleaseeeee...(ʃƪ˘˘.) (.˘˘ʃƪ)
 
 

Berikutnya... mari kita SAMBIT #ehh sambut xixixixi apaan sih?! 
ya udah deh ya yuuukkk mari melanjutkan ke pasangan berikutnya *\(´▽`)/*.
Pasangan yang punya andil jasa dalam membesarkan Bapak, Buliknya Bapak dari keluarga Tuban beserta suami tercintanya. 
Seperti yang dikisahkan oleh Ibu dan Bapak, beliau ini adalah sosok istri yang amat sangat patuh pada suami. Wanita rumahan yang hidup dan matinya hanya untuk suami dan anak-anaknya. Tidak banyak yang beliau inginkan, bahkan mungkin tidak ada selain ridho Allah, ridho suami, dan ridho anak-anak beliau atas bakti beliau. WOW banget yaaaaa .....c(ᵔoᵔc)
Ketika berbincang dengan suaminya pun beliau menggunakan bahasa jawa halus. Begitu hormat dan baktinya beliau pada suami. Begitu pula sebaliknya, sang suami begitu memujanya. Panggilan mesranya juga Dek dan Mas, hingga sepuh. (ε˘˘ʃƪ)

 

Next roll, Paman dari ibu, tapi saya menyebut beliau Pakdhe. Beliaulah yang dianggap sebagai pengganti Mbah Kakung, tetap perhatian pada Ibu selayaknya anak sendiri, dari sejak Mbah Kakung sugeng hingga beliau sendiri wafat. 

Well, This is the romantic story. Sejak awal menikah hingga menjalani kehidupan rumah tangga, mereka tidak pernah sekalipun merepotkan keluarga besar. Mungkin karena tinggalnya memang terpisah dari keluarga besar. Setelah menikah, langsung pindah menempati rumah sendiri, beberapa bulan kemudian tahu-tahu Budhe sudah hamil. Dan selang setahun kemudian si bayi sudah diperkenalkan ke keluarga besar. Tidak pernah terdengar konflik dalam keluarganya. 

Namun ujian datang di tahun 2003, saat pertama kali Pakdhe terserang stroke. Pada serangan stroke pertama, Pakdhe masih bisa berjalan walau dengan agak susah payah. Tapi serangan kedua yang datang setahun kemudian menumbangkan beliau. Raga beliau lumpuh total. Semakin hari tubuh beliau habis digerogoti penyakit itu, tapi beliau benar-benar tabah, sabar, ikhlas menerima sakit itu. Terlebih karena bakti sang istri yang Masya Allah luar biasa, pastinya menambah semangatnya.
Awal-awal walau hanya terbaring di tempat tidur, beliau masih mampu terbata berbicara, dan meski lumpuh beliau tetap tekun mendirikan sholat. (╥﹏╥).

Sebelum sakit, Pakdhe bekerja di Dinas PU Malang, setelah sakit kontan Pakdhe tidak bekerja dan Budhe yang menggantikan. Budhe mengupayakan sawah yang mereka miliki, ya Budhe bertani, wanita perkasa. Budhe dengan telaten merawat Pakdhe. Memastikan semua kebutuhan beliau terpenuhi, mulai dari memandikan, menyikat gigi pakde, mengganti pakaian, menyuapi makan dan minum, hingga membersihkan kotoran. Budhe orangnya sangat bersih, itu sebabnya walau sakit Pakdhe sedemikian rupa, tapi tidak ada bau tidak sedap yang tercium. Beliau ibarat raga pengganti untuk Pakdhe. 

Budhe tetap berbincang dengan Pakdhe, menceritakan kejadian-kejadian yang dialami, bercanda, walau reaksi Pakdhe hanya tersenyum dan tertawa lebar tanpa suara. Seolah tak ada yang berubah dalam kehidupan mereka. Tidak pernah sekalipun beliau membentak Pakdhe, benar-benar lembut walau kami paham beliau pasti merasa letih, payah yang teramat sangat.

Pernah waktu keluarga besar menjenguk Pakdhe, adik Pakdhe berujar, "Ya Allah mbak, ketelatenanmu akan dibalas surga sama Allah. Pahalamu pasti besar. Kalau istrinya bukan kamu, entah gimana nasibnya Mas", dan Budhe langsung marah.
"Eh, jangan bilang seperti itu, aku tulus bakti sama suamiku, mau dibalas pahala ataupun nggak, wallahua'lam, aku ikhlas, aku nggak minta apa-apa karena itu memang sudah kewajibanku. Nggak ada manusia yang boleh bilang gini gitu, itu hak Allah."
Saya yang sedang memijit pelan kakinya langsung melirik ke Pakdhe, dan beliau tersenyum sembari 
memberikan isyarat kedipan mata, saya pun tergelak, mungkin kami berpikir hal yang sama, "rasain deh diomelin Budhe wkwkwkwk"

Setelah sekian lama diuji penyakit oleh Allah, akhirnya lebaran tahun 2011 yang lalu Pakdhe berpulang di usia 60 sekian.
Saat memandikan jenazah pun tanpa bantuan pihak luar, hanya Budhe beserta putra putrinya dan Pamannya Budhe yang dimintai tolong untuk memimpin doa karena beliau memang Modin (apa ya bahasa Indonesianya Modin --"). 
Jadi ketika pelayat mulai berdatangan, jenazah sudah bersih. Beliau hanya berkata "kondisi suamiku bukan untuk dibicarakan oleh banyak orang, biar hanya aku dan anak-anakku yang tahu". MasyaAllah (╥﹏╥).

 

Daaaannn kisah romansa senja dalam keluarga yang akan saya bagi sebagai penutup tulisan ini adalah Ibu dan Bapak *\(´▽`)/*. Penutup tulisan lho ya, bukan penutup rangkaian kisah yang akan mekar di kemudian hari lho ya...ahahahahaeee...
Ibu dan Bapak, Perpaduan keluarga jawa kental dan keluarga pesantren jawa kental yang akhirnya menghasilkan anak bermotif abstrak dan semi absurd seperti saya ini bkakakakak #ehh lupa ngakak lagi, mesti kalem xixixixixi
Walaupun Ibu tidak menggunakan kromo inggil (jawa halus) saat berbincang dengan Bapak, tapi mereka berdua sangat menjunjung tinggi penghargaan terhadap pasangan. Panggilan mesra mereka bukan Diajeng, Kangmas, Dek, apalagi cinta, sayang, rindu seperti kebanyakan pasangan saat ini.
(_ _")zzzzzz *langsung eneg
     Panggilan mesra Bapak ke Ibu : "Thiwuk" (⊙.◎")a
     Panggilan mesra Ibu ke Bapak : "Ke' " w(ὺ.ύ)w
     *apalagi ituuuhhh (╥ ~ ╥")
     Kata ganti panggilannya adalah : "sampean"
Entah apa maksud nama panggilan itu, aneh sih emang hahahaha *ROTFL
Mungkin karena jarak usia Ibu dan Bapak terpaut tidak terlalu jauh, jadi kesannya beliau-beliau ini seperti sahabat sejak kecil, malah lebih mirip bercandanya dua saudara.
Berbeda dengan para sesepuh yang masih ada rasa sungkan untuk bercanda yang agak kelewatan, Ibu dan Bapak lebih all out.
Masak berdua, Bapak bertugas menghaluskan bumbu, dan ibu menumisnya. Mereka juga jail.
Kalau bumbu ulegan kurang halus, ibu dengan seenaknya bilang, "kurang alus. Ulang!!!", tapi setelahnya nyengir kuda lalu terpingkal-pingkal.
Dan Bapak hanya menimpali, "woooo, dasar Mandor Paidi!!!"

Begitu pula dengan Bapak. Saat dunia sedang tenang karena Ibu tidak bawel, ada saja yang dilakukan Bapak. Sekali waktu pernah tiba-tiba seolah terkejut sambil melotot dan menunjuk di belakang punggung Ibu, "YAA ALLAH... YAA ALLAH ... GEDE BANGET ... LABA-LABA ... MINGGIIIIIIIRRRR!!!!!".
Kontan wajah Ibu memucat, lalu meloncat sambil menjerit sekuat tenaga. Matanya terpejam rapat sambil melempar apapun yang ada di sekitarnya ke arah Bapak.
Dan kami anak-anaknya, langsung berhambur menyelamatkan diri sambil terpingkal-pingkal menertawakan Bapak yang berusaha melindungi diri dari lemparan Ibu. Beliau pun terpingkal-pingkal walau sambil nyengir menahan sakit akibat satu barang yang sukses mendarat di dahi Bapak.
Moment semacam itu jarang dilakukan Bapak, karena beliau tidak seperti saya, ibu, dan adik yang ekspresif menunjukkan suasana hati kami.

Awal tahun saat saya pulang ke Malang, saya sempat ngobrol santai berdua dengan Bapak, dan sambil memandangi tanaman di halaman depan, beliau menggumam, "Omelan dan bawelnya Ibumu itu memang berisik, bahkan seringnya malah kayak ngrepoti. Tapi dunia tanpa omelan Ibumu itu kayak nggak hidup."
Dan karena saya adalah anak Ibu dan Bapak yang sama-sama jail, spontan saya berteriak sambil terbahak-bahak menertawakan Bapak, "eeeeeeaaaaaa....wwaaaahuhahahahahahaha. Bapaakkk bkakakakakak....akakakakak...ihiiirrrr....ternyataaaa....wakakakak....", dan keusilan itu makin menjadi saat saya dapati wajah Bapak memerah. Dan mendengar kegaduhan itu, kontan mengundang hadirnya adik saya dan keponakan untuk memperkeruh suasana. *\(´▽`)/*

Perjalanan rumah tangga Ibu dan Bapak tidak selalu mulus dan penuh bahagia seperti cerita di atas, banyak liku-liku rumit yang juga harus mereka tempuh. Yah seperti pasangan lain pada umumnya, ujian hadir saat Bapak tidak bisa lagi bekerja dikarenakan sakit dan usaha keluarga hancur. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan pada posting saya yang lalu, ibu -anak tunggal dari keluarga terpandang yang tidak pernah bermimpi mengalami kejamnya dunia- ikhlas tanpa paksaan mengambil alih kemudi. Bekerja di Malaysia sebagai pembantu. Merelakan hilangnya waktu melihat tumbuh kembang anaknya, walau beliau tetap intens mendampingi dari jauh. Demi masa depan anak, dan demi pengobatan Bapak. (╥﹏╥)

Well, pahit manisnya masa itu sudah terlalui cukup memuaskan walau tidak sempurna. Kini, mereka sudah bersama berkumpul kembali, tertatih berdua menghadapi sisa ujian dan coba yang masih mendera di sisa usia. ( ˘-˘)/(TзT)



 

Dari mereka saya banyak belajar tulus menerima dan berbagi. 
Bahwa...
Berdampingan dalam bahtera pernikahan bukan hanya sekedar melimpahkan roman picisan, 
Bukan tentang sepotong coklat dan setangkai bunga, 
Bukan tentang betapa sempurnanya pasangan, 
tapi tentang besarnya ketulusan menerima dan berbagi untuk saling menyempurnakan.

~ YOU ARE NEVER TOO OLD TO SHOW HOW BIG IS YOUR LOVE ~

Semoga Allah berkenan mengijinkan dan mewujudkan kisah saya nanti sebagai penyambung untaian Romansa Senja selanjutnya. Amiin...




Doa cinta untuk beliau-beliau yang sudah menghadirkan pemahaman makna ketulusan kasih dalam proses pembelajaran hidup saya...

Al-Fatihah...

READ MORE >>>

Monday, March 17, 2014

Through the Journey Chapter 5. Kunyil Pesek Rempongwati

Salah satu pose cantiknya, katanya "biar Kanya cantik kelihatan imut Te...ini gaya imut" (-,-")a

Sejak kereta baru sampai di Kepanjen, adik saya dan Kanya (keponakan bungsu) sudah ribut telepon, bbm, sms. Belum juga 2 menit sudah tanya lagi,
"Sampai mana?"
"Keretanya suruh dorong aja Yed, lama amat. Nih Pesek udah rempong mulu"
Hahahaha

Awalnya saya berniat naik angkot saja sendiri dari stasiun, tapi adik dan keponakan ngotot mau menjemput, haaahhh serasa ibu Negara wae wkwkwkwk
Adik   : "Gak, Yed! Aku yang jemput ya! Pokoknya pagi aku udah stand by"
Kanya : "Aku ikuuuuuuuttttttttt....Ya Te ya...Tante Atiek...aku ikut jemput Ate Dydy ya?!"
Adik   : "Duuuhhh, rempong banget ini anak tikus, hadeh Yeeeddd!!!"
Kanya : "Hahahaha...Tante Atiek ini enak aja aku dibilang anak tikus. Aku Kanya cantik kok ya Ate Dydy yaaaa..."
Saya sudah tidak bisa menjawab, terpingkal-pingkal sampai dilirik sama penumpang lain. Dikira orang stress gegara kelaparan dan lamanya perjalanan kali wkwkwkwk.

Kanya memang baru berusia 4 tahun tapi dia dewasa. Fisik, kepribadian, pemikirannya mixing antara saya, adik saya, dan ibu. Sama sekali tidak ada kemiripan dengan ibu dan ayahnya.
Entah bagaimana bisa seperti itu. Dia cerdas, energik, cekatan, ceriwis, ketus, bawel, jutek, dewasa, bijak, jail, konyol, keras kepala tapi telaten, ekspresif, banci kamera dan tentu saja Cantik walau pesek, seperti yang biasa ia ucapkan di akhir kalimatnya "Aku Kanya Cantik".

Sejak usia 2 tahun, Kanya tinggal bersama kami, sebenarnya kakak dan mas-nya juga karena kedua orang tuanya super sibuk (entah sibuk apa) sehingga perawatan mereka terbengkalai (*benar-benar tidak bisa dicontoh). Tapi ibu dan ayah mereka mengambil paksa dan membuat ulah sehingga terjadi insiden terhadap ibu yang sampai detik ini pun saya masih belum bisa menemukan alasan bagaimana bisa mbak saya setolol itu.

Well, let's close that case! Selesai tentang mereka.
Kembali ke Kanya.

Kami paham betul Kanya jago makan dan ngemil, sehingga adik berinisiatif membawa bekal roti, beragam snack, dan air mineral dalam satu kantong plastik besar. Subhanallah beneeerrrrr (x_x")a..
Menurut cerita adik saya via bbm, di sepanjang perjalanan Kanya sudah mulai menghabiskan bekal-bekal itu sambil terus bernyanyi di boncengan depan dengan cerianya.

"Haduh Yed, sumpah kayak penuh kupingku. Ribut banget nih anak tikus wkwkwkwk. Capek, nyanyi makan ... makanan habis, sholawatan ... capek lagi, minum ... selesai minum, ngoceh, nanya-nanya ini itu trus baca Al-Fatihah ... ngemil lagi sambil baca doa ngaji ... minum lagi trus ngigel nyanyi oplosan. Ampun beneeerrr... aku bawa bekalnya banyak, yakin deh nyampe stasiun pasti abis duuhh...wkwkwk", terang adik saya saat memberi kabar bahwa mereka sedang dalam perjalanan.
"Hahahaha, Ya wis Ming, Ati-ati nyetirnya jangan sambil telpon!", ujar saya.
Semilir terdengar, "tutupen botolmu, tutupen oplosanmu, emanen nyawamu... Eh Te... Ate... iku Ate telpon sopo?"
"Bukan sopo-sopo, dih rempong" jawab adik saya sekenanya.
"Aaaaaahhh Tante Atiek bo'oooonnnggggg xixixixi. Telpon Ate Dydy khaaaannn??!!! itu Ate Dydy ya? Ate Dydy nyampe mana?", tebak dan tanya Kanya dengan nada genitnya yang menyebalkan hahaha.
"Au ah.. ribut aja deh, udah adek nyanyi aja sanaaaa..! Duh, udah ya Yed, nanti bbm kalo udah nyampe ya, rempong banget nih bocah"

Tawa saya kembali tidak bisa ditahan, duuuuhhhh kangen banget sama mereka berdua. Mana yang bocah beneran mana bocah-bocahan kadang tidak jelas perannya hahaha. Adik saya kalau sudah muncul bocahnya juga suka GJ banget.
Adik     : "ini ibukuuuuu...!!!!" sambil memeluk ibu
Kanya   : "Iki Atikuuuuuu, Ateeeee!!!" sahut Kanya dengan kencangnya
Adik     : "Yeeeeeee, ibuku kookk. Ibumu di Sidoarjo sana lho, sana adek pulang aja ke ibunya sana! Awas jangan pegang-pegang, ini ibuku!"
Kanya   : "WOooooo, Emooohh yooooo, aku ga mau sama ibu, ibuku jahat mukul Ati. Kanya satu-satu dewe-dewe sama Ati disini koookkk" (*maksudnya : Kanya satu-satunya yang tinggal disini sendiri sama Ati-kalimat itu meluncur begitu saja tanpa ada yang mengajarkan, karena dia menyaksikan perlakuan ibunya ke neneknya)

Memang tujuannya untuk bercanda, tapi MasyaAllah ributnya sampai teriak-teriak. Jagagagagag...tapi justru itulah yang membuat meriah dalam keluarga kami.

Notif bbm berbunyi, ternyata dari adik saya yang mengabarkan bahwa mereka sudah sampai di stasiun. Tapi kereta yang saya tumpangi masih juga belum beranjak meninggalkan stasiun Kepanjen. Duuuuhhhh, lamaa sekali rasanyaaaa... Yaa Allah ... w(T^T)w
Adik    : "Payeeeeeeeddddddddd.... Ya ampuuunnn Yeeeeeeeddddd!!!!!!!!!"
Saya    : "Opo to Ming? Bengak bengok" (*Apa sih Ming, teriak-teriak)
Adik    : "Masih lama ya? ni anak tikus ribet mulu. Beneran khan apa kataku, snacknya abis dech begitu sampai sini. Tau sendiri ni bocah kalau mulutnya kosong pasti bawel. Ini tadi aja aku beliin jajanan lagi, udah habis ote-ote 2 biji, gorengan apa aja, trus aku ajak mampir maem karena bilang laper. Padahal tadi roti, snack sekantong plastik gede udah diabisin sendiri. Minumnya juga udah hampir abis (>,<) Ya ampun Yeedd"
Saya    : "Wkwkwkwk...udah beliin batagor atau cilok atau apa gitu buat nyumpal bawelnya. Ni kereta lansir agak lama kayaknya, kereta ke Banyuwangi belum juga lewat"
Adik    : "Ahaaaa...aku tau...dibeliin cilok aja, khan kenyal tuh, susah ngunyah khan, biar lamaan rem bawelnya."
Saya    : "Astaghfirullah al adziim...wkwkwkwk...jahate...!!!"
Adik    : "Wkwkwkwk biarin hahahahaha...Eh Yed, Hadeeeehhh ... tau ga?"
Saya    : "Ga?"
Adik    : "Payeeeeeedddd....."
Saya    : "Hahahaha...."
Adik    : "Kunyil pesek ini tadi nanya gini,
               'Te... Ate Dydy sampe mana?'
               'Kepanjen Dek'
               'OOoooo...Kepanjen itu mana?'
               'Udah deket'
               'OOoooo...tapi kok ga dateng-dateng yo?!'
               'Keretanya macet'
               'OOoooo...macet, kenapa Te?'
               'Ya Allah, adeeekk!! Gantian jalan itu keretanya. Hayo tanya lagi kenapa gantian gitu! jitak sini'
               'Hahahaha...gaaaaaakkkk kooookkkkkk'
               Trus dia diem Yed, masukkin ote-ote ke mulut. Eeeee ga lama dia nanya lagi
               'Te..!'
               'Hmm?'
               'Aku kenapa ga boleh nanya?'
               Ga aku jawab, langsung sisa ote-ote aku masukkin mulutnya, eh dia ngakak hahaha"
Saya    : "Yaa Allah, jahateeee... wkwkwk...kenapa ga kamu bawain CTM aja sih biar tidur..#ehh salah yo?! wkwkwk"

Obrolan kami via bbm terus berlanjut seiring mulai berjalannya kereta hingga setengah jam kemudian saya sudah sampai di stasiun Malang Kota Baru.
Segera saya menghambur keluar ketika kereta sudah benar-benar berhenti. Duhh kangennya sudah tidak tertahankan. *\(^o^)/*
Waahhh melihat wajah sumringah mereka berdua seketika membuat letih saya karena perjalanan jauh hilang musnah *cliing*

Adik    : "Selalu deh kalo pulang kayak pindahan, ini barang apaan aja sih? Sulak? Yaa Allah, jauh-jauh dari sana bawa sulak? Kayak di Malang ga ada aja Yeeddd" (*sulak : pembersih debu dari bulu ayam)
Saya    : "Mainannya ibu hahaha, ibu yang beli itu dari bulan Juni tahun kemarin baru sempat kebawa. Udah biarin yang penting ibu seneng"
Kanya  : "Ate..Ate...aku bonceng tengah sama Ate Dydy ya?!"
Saya    : "Iya Nak, sini turun dulu ditata dulu bawaannya biar ga ribet ya!"
Kanya mengangguk sambil turun dengan girangnya.
Saat semua sudah tertata rapi dan kami mulai melanjutkan perjalanan, di tengah jalan Kanya masih saja bernyanyi dengan berisiknya. Tapi tiba-tiba dia berhenti dan menoleh pada saya sambil berbisik...
Kanya  : "Ate..Ate.."
Saya    : "dalem, Nak?"
Kanya  : "Aku laper, aku belum maem"
Alis saya seketika terangkat, adik saya melirik dari spion sambil mencibir dan menarik nafas panjang begitu mendengar bisikan Kanya.
Saya    : "Yaa Allah, kasian banget se Nak! (*pasang tampang kaget) Emang Tante Atiek ga bawa camilan?"
Kanya  : "Bawa, dikit"
Saya    : "Ga diajak mampir maem?"
Kanya  : "Nggak... eh diajak sih, tapi khan udah tadi pagi", dan wajahnya datar seperti benar-benar lapar.
Adik dan saya beradu pandang lewat spion... dan langsung tergelak sampai mbrebes mili ... Sudah tadi pagi katanya, padahal baru dua jam yang lalu...wkwkwkwk... Duh Peseeekkkkk cintanya Ateeee....


Ekspresi agak marah karena keduluan kakaknya memeluk saya sewaktu saya baru sampai di rumah, lebaran tahun lalu. Obatnya...foto yuuuukkk....!!!

Gaya semaunya, tanpa bisa dilarang

"Ate, aku mau gaya manis"... *maksud?? (-,-")

"Aku jualan bross Te, nanti kalo jualan gini, bagus khaaann!!!!"

salah satu kesukaannya kalau saya pulang adalah "ngasih kerjaan Ate buat nguncir cantik rambutku setiap abis mandi" w(>,<)w

Sama mas Bagas yang kalem. Ate miss you, Le! Sehat, baik-baik disana ya! (T^T)

Genitnya, itu pose tanpa diarahin sama sekali

Jelong-jelong ke Alun-alun Kota Batu, lebaran tahun lalu

READ MORE >>>

Tuesday, February 25, 2014

Through the Journey Chapter 4. Akhirnya Suara Sexy itu Terdengar lagi


Yuuuhuuuuuuu....yuk mari disambung lagi celoteh tentang Through The Journey ya. Celoteh terakhir kemarin tentang tangis pilu perut saya khan ?! Yang belum baca, silahkan klik disini. ~(^v^)~

Banyak di antara kami, para penumpang, yang akhirnya saling bertanya kota tujuan masing-masing dan bergantian berjaga. Spontan saja tanpa diminta, agar jangan sampai tertidur dan stasiun tujuan terlewatkan. Petugas KAI saja tidak ada yang berjaga untuk mengingatkan stasiun pemberhentian berikutnya. Nah kalau kebablas khan bahayaaaaa.... *gigit jari dong*

Beda sekali dengan saat masih ada pedagang asongan. Di tiap stasiun mereka berteriak mengingatkan, "Cirebon..Cirebon..ayo yang turun Cirebon persiapaaannn", "Tegal...Tegal...Tegal....Stasiun Tegal...jangan sampai ketinggalan!!". Noh, baik banget khan mereka.
Kurang lebih seperti itu teriakan mereka yang saya rindukan, dan memang terbukti tidak ada yang sampai terlewat. Tapi sekarang, kalau yang turunnya tidak sampai di stasiun paling ujung, mau merem juga khawatir kebablas, padahal perjalanan tidak cukup sejam dua jam.

Kedua pasangan suami istri di depan saya turun di Solo, tapi mereka terlihat capek sekali dan akhirnya tertidur pulas. Akhirnya saya dan adek remaja pria yang sudah saya ceritakan sebelumnya tanpa banyak bertanya langsung berjaga, walau sebenarnya juga ngantuk sekali.

Sampailah kami di Solo.
"mbak...mbak...sudah sampai Solo", ucap saya pelan untuk membangunkan mereka, dan mereka pun segera terbangun.
"Hah? Sudah sampai?! Mas..bangun..ayo turun"
Agak tergopoh-gopoh mereka menurunkan barang bawaan, lalu sebuah suara nyaring tiba-tiba terdengar, "Pelan-pelan! Diteliti dulu bawaannya! Berhenti agak lama keretanyaaa...nggak usah keburu-buru!"

Saya langsung mencari sumber suara, daaaannnnnn....
"Energen...Energen...kopi, susu jahe anget! Pop Mie...Pop Mie...Energen, kopi, susu, jahe anget!!!!"

Huwaaaaa *jingkrak-jingkrak dalam hati*.. mata saya langsung berbinar dan spontan berteriak.
"Pak'e.. kopi setunggal !!!" (Pak, kopi satu!), sambil mengacungkan jari dan tersenyum cerah.
"Wih mbak'e, ngelak nggih mbak?" (wih mbak, haus ya mbak?), beliau tergelak.
"Nggih Pak, plus keluwen kulo milai king Senen lho Pak, hahahaha. Wonten kopi nopo mawon Pak?" (Iya Pak, plus kelaparan sejak dari Senen lho Pak, hahaha. Ada kopi apa saja Pak?), jawab saya jujur.
 "Wonten torabika susu, moccachino, ABC, niki monggo dipilih!" , jawab beliau sambil mempersilahkan saya untuk memilih.
"Moccachino mawon, Pak! Pinten?", jawab saya memilih sambil bertanya harganya.
"Kalih ewu kemawon, Mbak".
Saya melotot dan langsung tertawa ke adek yang turun di Madiun itu, "Tuh kan dek, murah banget to, cuma 2.000 lhooo"

Si adek itu tergelak, mungkin dalam hatinya bicara, "Udik banget sih orang ini, biasa aja kali"
Halah, biarin aja, saya bangga biarpun udik, wkwkwkwk.

Setelah si bapak penjual kopi dan seperangkatnya berjalan menuju gerbong lainnya, mulai muncul suara-suara lain sahut menyahut.

"Aqua..qua..qua..maijon..pokari suit..seprit"
"Pisang kukus, kacang rebus, tahu asin. Muraah ... Muraahh.. Muraah"
"Leh Olehe..Leh Olehe..brem brem Madiun...wingkone anget"

Huaaaaaaa.... serasa dunia langsung berwarna...bunga-bunga bertaburan...musik mengalun riang...#eeaa *lebay kakaak* \(^v^)/
Bagi saya teriakannya sexy banget buuukkk...hahahaha.... apalagi kalau yang teriak tuh mbak-mbak dengan logat Solo yang jualan kopi.
Cengkoknya mesra penuh cinta..hahahaha...

Tapi ada yang baru tuh dan agak aneh, terdengar seperti, "margonisi... margonisi... margonisi..."
"Nahlo, paan lagi tuh? Biar kesini ah, ditungguin", pikir saya.
Suara semakin keras, tanda beliau semakin mendekat.
Ketika tepat di samping saya, ternyata beliau mengucapkan "makroni isi... makroni isi... "
Oalaaaaahhhh hahahahahaha.....

Begitulah teriakan-teriakan sexy itu terdengar diselingi dengan pemberitahuan mereka tentang pemberhentian selanjutnya. Silih berganti pedagang menemani perjalanan kami hingga ke Malang.

They are so sexy lhoooooo....hahahaha...suka..suka..suka..
READ MORE >>>

Saturday, February 22, 2014

Surat Pengunduran Diri



Di saat lingkungan kerja sudah tidak lagi nyaman, sebaik apapun penyelesaian tugas tapi tetap saja salah di mata pimpinan, dan kepala sudah mulai mendidih serta berasap #eeaaaa *lebay kumat kakaakk* c(^v^)9
maka inilah senjata terakhir yang perlu dikeluarkan (can't wait to make this letter again ahahaha). Walau terkadang prosedur di suatu perusahaan mempersulit karyawan untuk mengajukan resign hingga berakibat pada langsung kaburnya sang karyawan. Tidak ada ruginya untuk perusahaan, malah untung, tidak perlu membayar pesangon ataupun repot membuat surat keterangan pengalaman kerja.
Jadi, sekedar saran, jika saat masuk dulu baik-baik dan disambut baik, maka alangkah lebih baiknya juga kalau keluarnya pamit baik-baik. Ibarat bertamu masuk lewat pintu depan, begitu juga saat pulang khan ?!.


Sila simak contoh berikut :

Kepada Yth . Bapak ... ... /Ibu ... ...
                      Mgr. Dept ... ... / HR Department
                      PT. ... ... ...
                      di tempat

Perihal         : Surat Pengunduran Diri

Dengan hormat,
Sehubungan dengan diagnosa dokter tentang kondisi penyakit saya yang membutuhkan perawatan intensif untuk beberapa bulan ke depan (jelaskan alasan pengunduran diri), maka saya yang bertanda tangan di bawah ini :
          Nama          : ... ... ...
          NIK            : ... ... ...
          Jabatan        : ... ... ...
Mengajukan surat permohonan pengunduran diri saya sebagai karyawan PT. ... ... ... terhitung sejak tanggal ... ... ...
Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika dalam melaksanakan tugas selama ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang telah saya lakukan.
Demikian surat permohonan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan tanpa paksaan dari pihak manapun.
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih dan semoga PT. ... ... ... mampu mewujudkan visi dan misi perusahaan untuk menjadi yang terbaik.



(kota pembuatan surat, tanggal pembuatan surat)
 Hormat Saya,


(nama terang)
READ MORE >>>

Daftar Riwayat Hidup (Curriculum Vitae)

 

Nah, ini dia sebenarnya yang suka dibaca langsung karena sebenarnya surat lamaran adalah sebagai kata pengantar, yah bisa dianggap sebagai sambutan lah.
Contoh di bawah ini langsung saya rangkap dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, supaya tidak terlalu banyak repetisi #eciyeee *apalagi tuh* ~(^u^*~) 



DAFTAR RIWAYAT HIDUP
CURRICULUM VITAE

Nama Lengkap                  : ... ... ... ... ... ...
Full Name
Nama Panggilan                 : ... ... ... ... ... ...
Nick Name
Jenis Kelamin                     : ... ... ... ... ... ...
Gender / Sex

Tempat / Tanggal Lahir       : ... ... ... ... ... ...
Place / Date of Birth


Berat Badan                       : ... ... ... ... ... ...
Weight

Tinggi Badan                      : ... ... ... ... ... ...
Height

Hobi                                  : ... ... ... ... ... ...
Hobies

Alamat                               : ... ... ... ... ... ...
Address

Nomor Telepon                  : ... ... ... ... ... ...
Phone

Agama                               : ... ... ... ... ... ...
Religion

Kewarganegaraan              : ... ... ... ... ... ...
Nationality

Status                                : ... ... ... ... ... ...
Marital Status

Email                                 : ... ... ... ... ... ...
Email

Website                             : ... ... ... ... ... ...
Website

Pendidikan                        :
Education
  • Formal                   : ... ... ...
  • Informal                 : ... ... ...
Pengalaman Kerja             : ... ... ... ... ... ...
Experience


READ MORE >>>

Surat Lamaran Pekerjaan 5 (Instansi Pendidikan)



Kalau yang satu ini, saya tahunya dari teman kuliah dulu yang memang nyambi jadi guru honorer. Beliau bilang masuknya juga melalui proses "menulis lamaran dan mengirimkannya kepada Bapak/Ibu Kepala Sekolah/Ketua Yayasan yang Terhormat".
Berikut copy surat lamarannya yang berhasil saya palak. (--,)7

(kota tempat penulisan surat, tanggal pembuatan surat)

Kepada Yth . Bapak / Ibu Kepala Sekolah / Ketua Yayasan
                      ... ... ... ... ... ... ... (nama yayasan / sekolah)
                      di tempat

Perihal          : Surat permohonan pekerjaan.

Dengan hormat,
Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari (sebutkan sumber info) bahwa sekolah / yayasan yang Bapak/Ibu pimpin membutuhkan (sebutkan posisi yang dibutuhkan), maka bersama ini saya mengajukan permohonan untuk bergabung di sekolah/yayasan (sebutkan nama).
Sebagai bahan pertimbangan, berikut saya sertakan data diri saya :
Nama                             : .. ... ... ... ...
Tempat, Tanggal lahir      : .. ... ... ... ...
Agama                           : .. ... ... ... ...
Pendidikan / Jurusan       : .. ... ... ... ...
Alamat                           : .. ... ... ... ...
Nomor Tlp / Hp             : .. ... ... ... ...
Pengalaman kerja sebagai :
  1. .. ... ...
  2. .. ... ...
  3. .. ... ... (sebutkan tempat kerja sebelumnya, jabatan, serta lama bekerja)
 Demikian yang bisa saya sampaikan. Besar harapan saya untuk dapat diterima bekerja di (nama sekolah/yayasan). Atas segala perhatian dan kerjasamanya, saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya,


(tanda tangan & nama terang)



============

Silahkan dimodifikasi dan Semoga bermanfaat yaaaa....
READ MORE >>>

Thursday, February 20, 2014

Surat Lamaran Pekerjaan 4 (Pegawai Negeri Sipil)



Saya buat surat lamaran ini karena waktu itu ada recruitment CPNS dan Ibu meminta saya mencoba peruntungan #ehh .
Begitu sampai kantor instansinya, antrian sudah mengularrr panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaangggg sekali Pemirsa, dan sampai ada yang pakai acara pingsan segala. Waduh, saya lebih pilih jurus kabur saja dah, karena sebenarnya sejak awal juga saya kurang tertarik masuk instansi pemerintahan...wkwkwkwk
Walaupun pada akhirnya saya harus menerima omelan dari Ibu karena sudah menyia-nyiakan kesempatan
Tapi tetep dong, yang namanya Dyah ya cuek saja, ketimbang tidak sesuai hati nurani rakyat, dosa lah saya..hahaha...
LOVE YOU IBU BAWEEEELLLLL....muach muach....

Bagi yang berminat sila dilirik ya (entah masih berlaku seperti ini atau tidak)... #lhoh *infonya masih kok*


(kota tempat dibuatnya surat), (tanggal pembuatan surat)

 Kepada Yth. Bapak / Ibu ... (kepala instansi)
                      Departemen ... (sebutkan)
                      di ... ... ... ...

Perihal         : Permohonan menjadi calon pegawai negeri sipil

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama                       : ... ... ... ... ...
Tempat, tanggal lahir : ... ... ... ... ...
Usia                         : ... ... ... ... ...
Jenis Kelamin           : ... ... ... ... ...
Agama                     : ... ... ... ... ...
Pendidikan / Jurusan : S1 / D3 / SMK / SMU / ... ... ... ... ...
Alamat                     : ... ... ... ... ...
No. Tlp / Hp            : ... ... ... ... ...

Dengan ini menyampaikan permohonan kepada Bapak / Ibu, agar kiranya dapat diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Department (sebutkan), dengan jabatan ... ... ... ... ... (kode jabatan : ... ... ... ... ).
Sebagai bahan pertimbangan Bapak / Ibu, bersama ini saya lampirkan :
  1. ... ... ...
  2. ... ... ...
  3. (sebutkan surat pendukung yang terlampir)
Demikian surat permohonan ini saya sampaikan. Besar harapan saya untuk dapat dipertimbangkan dan atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.


Hormat Saya,



(tanda tangan & nama terang)
READ MORE >>>